Pembangunan infrastruktur di daerah sering kali menjadi perdebatan antara pemenuhan gaya hidup modern atau investasi jangka panjang pada sumber daya manusia. Di Provinsi Lampung, tren pembangunan pusat perbelanjaan atau mall mewah belakangan ini kian masif. Namun, jika kita melihat dari kacamata urgensi pembinaan bakat dan kesehatan masyarakat, ada kebutuhan yang jauh lebih mendesak daripada sekadar deretan toko bermerek, yaitu penyediaan fasilitas olahraga yang representatif seperti gedung olahraga atau GOR.
Alasan pertama mengapa fasilitas olahraga harus didahulukan adalah karena potensi atlet muda di daerah ini sangat melimpah. Cabang olahraga badminton telah lama menjadi kebanggaan nasional, dan daerah ini tidak pernah absen menyumbangkan talenta-talenta berbakat ke pelatnas. Namun, ironisnya, banyak atlet muda potensial di pelosok daerah yang harus berlatih di lapangan semen terbuka dengan pencahayaan seadanya. Jika pemerintah lebih memprioritaskan pembangunan pusat perbelanjaan, kita sebenarnya sedang membuang kesempatan untuk melahirkan juara dunia baru yang bisa mengharumkan nama daerah di kancah internasional.
Keberadaan sebuah mall memang bisa mendongkrak ekonomi secara instan melalui pajak dan serapan tenaga kerja ritel. Namun, dampak sosial dari sebuah gedung olahraga jauh lebih berkelanjutan. GOR berfungsi sebagai pusat komunitas di mana pemuda bisa menyalurkan energi mereka ke arah yang positif. Di tengah maraknya isu kenakalan remaja dan ketergantungan pada gawai, lapangan olahraga menawarkan solusi sehat yang membangun karakter kompetitif, disiplin, dan kerja sama tim. Fasilitas olahraga yang terjangkau akan mendorong gaya hidup sehat bagi masyarakat luas, yang pada akhirnya akan menurunkan beban biaya kesehatan daerah di masa depan.
Secara ekonomi jangka panjang, menyelenggarakan turnamen olahraga tingkat regional atau nasional di sebuah GOR yang megah bisa mendatangkan “sport tourism”. Ketika sebuah turnamen bulu tangkis besar diadakan, hotel-hotel akan penuh, kuliner lokal akan laris, dan ekonomi kerakyatan akan bergerak lebih merata daripada hanya berpusat di dalam satu gedung mewah. Masyarakat membutuhkan ruang publik yang produktif, bukan sekadar ruang konsumtif yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Mall mungkin menawarkan kenyamanan, namun gedung olahraga menawarkan harapan dan prestasi bagi generasi mendatang.