Istilah Budaya Asal Bapak Senang (ABS) telah lama mengakar dalam birokrasi, termasuk di sektor olahraga nasional. Budaya ini mendefinisikan keberhasilan bukan berdasarkan capaian atau prestasi nyata di lapangan, melainkan pada kemampuan tim atau individu untuk menyajikan laporan administrasi yang rapi dan memuaskan atasan. Fokus bergeser dari menghasilkan Atlet Indonesia berprestasi tinggi menjadi penyusunan dokumen tebal, lengkap dengan foto dan tanda tangan, untuk memenuhi syarat pertanggungjawaban.
Laporan proyek, yang seharusnya menjadi alat evaluasi, sering kali disulap menjadi tujuan akhir itu sendiri. Demi mencapai ‘kebahagiaan atasan,’ data di dalam laporan berpotensi dihiasi, dibesar-besarkan, atau bahkan tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya. Hal ini menciptakan ilusi keberhasilan yang menyesatkan. Praktik Budaya Asal Bapak Senang ini menjamin aliran dana di tahun berikutnya, terlepas dari apakah proyek tersebut benar-benar memberikan dampak positif pada pengembangan bibit unggul olahraga.
Konsekuensi terberat dari Budaya Asal Bapak Senang adalah terhambatnya inovasi dan kejujuran. Para pengelola program cenderung memilih proyek yang ‘aman’ dan mudah dipertanggungjawabkan secara administrasi, meskipun proyek tersebut tidak relevan dengan kebutuhan mendesak para atlet. Mereka menghindari risiko kegagalan, karena kegagalan—sekalipun merupakan bagian dari proses belajar—akan sulit dijelaskan dalam laporan dan dapat mengancam karier manajerial mereka.
Untuk memutus siklus negatif ini, diperlukan perubahan paradigma mendasar dari sekadar pertanggungjawaban administratif menjadi pertanggungjawaban hasil. Indikator keberhasilan harus diukur berdasarkan metrik objektif, seperti peningkatan rekor atlet, jumlah medali yang diraih di tingkat internasional, atau tingkat partisipasi masyarakat. Laporan harus berfokus pada analisis data riil, bukan sekadar kelengkapan berkas fisik.
Penerapan sistem audit yang berbasis output dan outcome sangatlah mendesak. Auditor harus turun langsung ke tempat pelatihan, berdialog dengan atlet dan pelatih, serta memverifikasi kesesuaian antara klaim dalam laporan dengan realitas di lapangan. Pengawasan yang ketat dan independen adalah penangkal efektif terhadap Budaya Asal Bapak Senang yang telah lama menjangkiti ekosistem olahraga nasional.
Selain itu, perlu adanya penghargaan yang jelas terhadap kejujuran dan keberanian mengambil risiko terukur. Kegagalan yang didasari oleh eksperimen dan pembelajaran harus diapresiasi, sementara keberhasilan yang hanya bersifat administratif harus dipertanyakan. Budaya organisasi harus mendukung pelaporan yang jujur dan apa adanya, yang pada akhirnya akan menjadi panduan perbaikan program di masa depan.
Dengan mengubah fokus dari ‘senangnya atasan’ menjadi ‘kualitas hasil’, alokasi dana dan sumber daya dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus benar-benar mendukung pengembangan atlet dan infrastruktur, bukan hanya untuk mencetak dokumen pertanggungjawaban yang tebal dan sempurna secara formal.
Mengakhiri Budaya Asal Bapak Senang adalah keharusan mutlak jika Indonesia ingin mencapai kejayaan olahraga yang berkelanjutan dan bermartabat. Ini membutuhkan komitmen kolektif dari semua pemangku kepentingan untuk menempatkan prestasi dan kesejahteraan atlet di atas kepentingan administratif semu, demi mewujudkan mimpi emas di kancah dunia.