Kesiapan infrastruktur arena olahraga merupakan pilar utama dalam mendukung lahirnya prestasi atlet bulutangkis di tingkat regional maupun nasional. Menyadari hal tersebut, PBSI Lampung mengambil langkah progresif dengan memperketat proses audit kelayakan sarana olahraga di seluruh wilayah kerja mereka. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap gedung olahraga (GOR) yang digunakan untuk pemusatan latihan maupun kejuaraan resmi telah memenuhi standarisasi internasional yang aman bagi fisik atlet. Evaluasi menyeluruh difokuskan pada dua komponen paling krusial, yaitu sertifikasi kualitas material lantai serta sistem tata cahaya yang digunakan di dalam ruangan olahraga tersebut.
Dalam pelaksanaan verifikasi fasilitas ini, pengurus daerah mengarahkan pengelola gedung untuk merujuk pada standar baku demi menunjang keselamatan operasional harian. Proses perbaikan mutu ini dirancang terintegrasi dengan pemetaan sarana di mana pengelola dapat mendaftarkan GOR mereka ke dalam mitra PBSI agar mendapatkan pengakuan resmi sebagai lokasi latihan yang representatif. Kelayakan lantai menjadi poin pertama yang diperiksa secara detail oleh tim auditor karena berdampak langsung pada persendian kaki para pemain yang bergerak aktif secara eksplosif sepanjang pertandingan.
Lantai GOR yang memenuhi standar organisasi wajib menggunakan material berbahan dasar kayu khusus (hardwood) atau karpet vinil sintetis (polymeric PVC mat) dengan ketebalan minimal sekitar 4,5 milimeter hingga 5 milimeter. Permukaan lantai harus memiliki koefisien gesek yang seimbang; tidak boleh terlalu licin yang dapat menyebabkan atlet terpeleset, dan tidak boleh terlalu kesat yang dapat mengunci pergerakan sepatu secara mendadak sehingga memicu cedera lutut atau pergelangan kaki. Sistem bantalan bawah lantai (underlayment) juga harus mampu menyerap benturan mekanis secara optimal guna meredam tekanan pada sendi-sendi tubuh saat atlet melakukan pendaratan setelah melakukan lompatan smash.
Komponen kedua yang tidak kalah penting dalam audit ini adalah sistem tata cahaya atau lumens pencahayaan di dalam GOR. Lampu penerangan lapangan harus diposisikan sedemikian rupa di sisi kanan dan kiri luar garis lapangan untuk menghindari efek silau (glare) langsung ke mata pemain saat melihat bola atas. Standar pencahayaan minimal untuk keperluan latihan rutin berkisar di angka 500 lux, sedangkan untuk keperluan turnamen resmi regional wajib mencapai minimal 750 hingga 1000 lux secara merata di seluruh area permainan. Distribusi cahaya yang konsisten tanpa bayangan gelap (shadowless) sangat krusial agar pergerakan shuttlecock berkecepatan tinggi dapat dipantau dengan akurat oleh atlet maupun perangkat pertandingan seperti wasit dan hakim garis.