Istilah Neuro Efficiency menggambarkan kemampuan sistem saraf pusat untuk menggerakkan otot dengan cara yang paling efektif dan dengan usaha minimal. Pada atlet pemula, otak sering kali mengirimkan sinyal ke terlalu banyak otot, termasuk otot yang sebenarnya tidak diperlukan untuk gerakan tertentu. Hal ini menciptakan kekakuan dan pemborosan energi. Sebaliknya, pada atlet elite yang telah dilatih secara neurologis di Lampung, otak hanya mengaktifkan serat otot yang benar-benar dibutuhkan. Hasilnya adalah gerakan yang tampak sangat halus, mengalir, dan hampir tanpa usaha, meskipun intensitas pertandingannya sangat tinggi.
Salah satu cara untuk mengurangi gerakan yang tidak perlu adalah melalui perbaikan mekanisme footwork. Banyak pemain sering kali melakukan langkah-langkah kecil yang tidak fungsional sebelum melakukan lompatan atau mengejar kok. Melalui analisis video dan sensor gerak, pelatih di Lampung mengidentifikasi pola-pola gerak yang bocor ini. Dengan memperbaiki jalur saraf yang mengontrol koordinasi kaki, atlet dapat mencapai posisi yang ideal dengan jumlah langkah yang lebih sedikit. Efisiensi ini memungkinkan mereka untuk selalu siap dalam posisi bertahan maupun menyerang tanpa merasa terengah-engah.
Penerapan teknik ini juga berdampak pada daya tahan otot. Ketika tubuh bekerja secara sinkron, beban kerja didistribusikan secara merata ke seluruh rantai kinetik. Tidak ada satu otot pun yang bekerja berlebihan secara terisolasi. Hal ini sangat krusial bagi atlet PBSI dalam menghadapi jadwal turnamen yang padat. Dengan menghemat energi melalui gerak yang efisien, atlet memiliki cadangan tenaga “ekstra” yang bisa digunakan untuk melakukan serangan kejutan di saat-saat terakhir. Ini adalah strategi yang mengutamakan kualitas gerak di atas kuantitas tenaga yang dikeluarkan secara serampangan.
Latihan kognitif juga berperan penting dalam menciptakan efisiensi ini. Otak yang mampu memprediksi arah bola lebih awal akan memberikan instruksi gerak yang lebih tenang kepada tubuh. Pemain yang sering terlambat merespons cenderung melakukan gerakan panik yang liar dan tidak terkontrol. Oleh karena itu, di Lampung, latihan antisipasi visual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program penguatan fisik. Semakin cepat otak memproses informasi, semakin sedikit energi yang terbuang karena tubuh tidak perlu melakukan koreksi posisi yang mendadak dan melelahkan.